Tampilkan postingan dengan label martial art / pencak silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label martial art / pencak silat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

IPS nurharias

A. Sejarah NH


Nur Harias didirikan pada tanggal 7 Mei 1972 di Surabaya, yang didirikan oleh Drs. H. M. Atho’illah Iskandar. Nama Nur Harias mempunyai arti yaitu, NUR = cahaya dan HARIAS = padi unggul, yang memakai prinsip ilmu padi yakni semakin berisi makin merunduk. Tujuan awal didirikannya Nur Harias adalah pengebangan Islam lewat pencak silat (syiar).

Ikatan Pencak Silat Nur Harias di Universitas Negeri Malang dibawa oleh seorang dosen POK Universitas Negeri Malang Drs. Eko Hariyanto, M.Pd pada tahun 1983 dan resmi masuk lembaga Perwakilan Bela Diri (LPBD) Universitas Negeri Malang pada tahun 1989.


B. Kenurhariasan


Nur Harias bersifat kekeluargaan, persaudaraan, dan kemasyarakatan yang gotong royong.

Tujuan Nur Harias adalah:

1. Membentuk warga Nur Harias menjadi warga negara Indonesia yang taqwa, sanggup membela diri, mempertahankan eksistensinya, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

2. Memberi tuntunan, haluan, dan pedoman hidup kepada warga Nur Harias melalui pencak silat, menuntun peri kehidupan gotong-royong, berbudi daya religius dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

3. Berpartisipasi dalam usaha-usaha Ikatan Pencak Silat Indonesia yang sesuai dan sejalan dengan asas dan tujuannya.

4. Membentuk pesilat yang tangguh dan berprestasi.


Falsafah Dasar:

a. Taqwa kepada Allah

b. Lurus, Laras, Leres (jujur/benar, bijak dan betul)

c. Ilmu padi (makin berisi makin merunduk)

d. Nang, Neng, Ning, Nung, Nong

e. Welas asih (peri kemanusian)

f. Ngapuranta (suka memaafkan, tidak mendendam)

g. Lilo-legowo (ikhlas, berserah diri, tawakal)

Keterangan:

Nang = Lanang, jantan, wenang, tanggung jawab, kompeten

Neng = Hening, Dian

Ning = Hening, bening, jernih

Nung = Renung, renungan yang berisi/terarah, berkelanjutan

Nong = Hasil yang bulat, bergema ke seluruh penjuru


Prinsip dasar sebagai Aliran Pencak Silat

a. Silaturahmi/persaudaraan

b. Menghindari permusuhan

c. Pantang surut

d. Menguasai lawan

e. Permainan posisi, pemindahan titik berat badan

f. Getap, permainan kecepatan

g. Ekonomis (memanfaatkan tenaga lawan, membuang tenaga lawan, tidak menerima/melawan/mengadu kekuatan)


Syarat-syarat pesilat:

a. Tenang

b. Waspada (tata,titi, tutu)

c. Tatag (tak gentar, mantap)

d. Mapan (posisi yang baik)

e. Laras (bijak, melihat salatan/arah, pandai menyesuaikan)

f. Tatas, Titis, Tutus, Tetes, Tetes

g. Ilmu padi (sopan, santun, selalu merendah)

Keterangan:

Tata - teratur, tertib, disiplin

Titi - teliti, seksama, hati-hati

Tutu - tetap, tekun, terus menerus, tak putus asa

Tatas - tangkas, tegas, mumpuni

Titis - tepat, mengenai sasaran

Tutus - tulus, yakin , dapat dipercaya

Tetes - berhasil, menghasilkan

Tetes - menetas, mengamalkan, menyebarluaskan


Panca Prasetya


1. Mengabdi kepada Allah SWT

2. Patuh pada pimpinan dan menjunjung tinggi nama perguruan

3. Berbakti kepada Ibu, Bapak, Guru, Masyarakat, bangsa, dan negara

4. Menjalankan yang baik, menjauhi yang buruk

5. bergotong royong dalam suka dan duka


Nur Harias memiliki lambang yang pada hakekatnya merupakan proyeksi dari bentuk, corak, isi, dan tujuan pendidikan pencak silatnya, yaitu:

1. Kubah bunga teratai merah bersegi lima = Sasana Pendidikan

Merah = Ketahanan fisik, semangat, cinta, tanah air, bangsa, dan negara

2. Latar belakang/dasar. Hitam = kekal abadi, tahan uji, menimbulkan yang haq

3. Enam batang dan daun padi berwarna hijau, berbuah 21 butir berwarna kuning = ilmu padi makin berisi makin merunduk

Enam batang daun = enam dasar kepercayaan, Rukun Iman:

· Iman kepada Allah SWT

· Iman kepada Malaikat

· Iman kepada kitab- kitab Allah

· Iman kepada rasul-rasul Allah

· Iman kepada hari kiamat

· Iman kepada qadlo’ dan qadar

Hijau = lurus, benar, baik

21 butir padi = suka menolong, membela yang lemah, membela yang teraniaya

21 = 3 x 7 (pitu, 21 = 3 x 7) = pitutur, pituduh, pitulung

Pitutur = nasehat lisan

Pitulung = petunjuk, pengarahan, peragaan

Padi = Hajat hidup, kebutuhan pokok masyarakat


4. Cabang putih - senjata persilatan murni


  • Bagian yang bulat = lambang kebulatan tekad

  • Bagian yang bengkok = untuk pertahanan, menguasai dan berarti laras, bijaksana

  • Bagian yang lurus = jalan yang lurus (sirathal mustaqim) menuju kesempurnaan di jalan Allah

  • Putih = sempurna

5. Bintang lima di ujung berwarna putih adalah lambang Nur Illahi yang bersinar keseluruh penjuru sebagai tujuan akhir, tempat berlindung dan kembali semua ciptaan-Nya



Tingkatan pendidikan:

I. Kawi (sabuk hitam dasar) =kijang

II. Bharata (sabuk merah) = jasmaniah, semangat = kuda

III. Nimpuno (sabuk biru) = lurus, benar, baik = banteng

IV. Manggala-panji (sabuk hijau) = welas asih, manusiawi = singa

V. Seno – pendekar muda ( sabuk kunyit) = ngapuranta, memaafkan = gajah

VI. Sasmito – pendekar madya ( sabuk gading ) = lili legowo = naga = pendekar Ki anom

VII. Waskito – pendekar utama ( sabuk putih ) = sampurno = garuda = Ki

VIII. Sabuk Intan – pendekar agung ( sabuk putih satin ) = Ki Agung


lebih lengkapnya click disini

Kamis, 24 Januari 2013

sejarah perguruan PERISAI DIRI

ang diluar UGM bergabung menjadi satu dalam wadah HPPSI (Himpunan Penggemar Pencak Silat Indonesia) yang diketuai oleh IR Dalmono.Tahun 1955 ia resmi pindah dinas ke kota Surabaya. Di sanalah ia dengan dibantu oleh Imam Ramelan mendirikan kursus silat Perisai Diri pada tanggal 2 Juli 1955.

Para muridnya di Yogyakarta kemudian menyesuaikan diri menamakan himpunan mereka sebagai silat Peerisai Diri. Disisi lain murid-murid perguruan silat Eka Kalbu yang pernah didirikan oleh pak Dirdjo masih berhubungan dengannya. Mereka tersebar di kawasan Banyumas, Purworejo dan Yogyakarta. Hanya saja perguruan ini kemudian memang tidak berkembang namun melebur dengan sendirinya ke Perisai Diri, sama seperti HPPSI di Yogyakarta. Satu guru menjadikan peleburan perguruan ini menjadi mudah. Murid-murid pak Dirdjo sebelum nama Perisai Diri muncul hingga kini banyak yang masih hidup. Usia mereka berkisar antara 65 tahun hingga 70 tahun lebih dan masih bisa dijumpai di Kawasan Yogyakarta dan sekitarnya.

Pengalaman yang diperoleh selama pengembaraanya dan ilmu silat Siauw Liem Sie yang dikuasainya kemudian dicurahkannya dalam bentuk teknik yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anatomi tubuh manusia, tanpa ada unsur memperkosa gerak. Semuanya berjalan secara alami dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Dengan motto "Pandai silat tanpa cedera", Perisai Diri di terima oleh berbagai lapisan masyarakat untuk dipelajari sebagai ilmu beladiri.

Pada tahun 1969 Dr Suparjono SH MSi (yang saat ini menjabat sebagai ketua dewan pendekar) menjadi staf Bidang Musyawarah PB PON VII di Surabaya. Dengan inspirasi dari AD?ART organisasi-organisasi di KONI Pusat yang sudah ada, Suparjono bersama Bambang Mujiono Probokusumo, Totok Sumartono, Mondo Satrio dan anggota Dewan Pendekar lainnya pada tahun 1970 menyusun AD/ART Perisai Diri dan nama lengkap organisasi Perisai Diri disetujui menjadi Keluarga Silat Nasional Indonesia PERISAI DIRI yang disingkat Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI. Dimusyawarahkan juga mengenai pakaian seragam silat Perisai Diri yang baku, yang tadinya berwarna hitam dirubah menjadi putih dengan atribut tingkatan yang berubah beberapa kali hingga terakhir seperti yang dipakai saat ini. Lambang Perisai Diri juga dibuat dari hasil usulan Suparjono, Both Sudargo dan Bambang Priyokuncoro yang kemudian disempurnakan dan dilengkapi oleh pak Dirdjo.

Tanggal 9 Mei 1983 RM Soebandiman Dirdjoatmodjo meninggal dunia. Tanggung jawab untuk melanjutkan teknik dan pelatihan silat Perisai Diri beralih kepada para murid-muridnya yang kini telah menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan beberapa negara di Eropa, Amerika dan Australia. Dengan di bawah koordinasi Ir Nanang Soemindarto sebagai ketua umum Perisai Diri pusat, saat ini Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI memiliki cabang hampir di setiap provinsi di Indonesia serta memiliki komisariat di 10 negara lain. Untuk mengahargai jasanya pada tahun 1986 pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pendekar Purna Utama bagi RM Soebandiman Dirdjoatmodjo.

sejarah IKSPI KERA SAKTI

Perguruan IKS PI Kera Sakti yang berpusat di Madiun Jawa Timur ini merupakan perguruan beladiri beraliran kung fu untuk gerakan beladirinya tetapi untuk kerohaniannya lebih cenderung ke Banten dan ulama Jawa. Berdiri pada tanggal 15 Januari 1980 di Jl. Merpati No. 45, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Mangunharjo, Kodya Madiun oleh bapak R Totong Kiemdarto dengan gerakan beladiri kung fu aliran utara dan selatan yang dipelajarinya dari pendekar aliran kung fu China yang ada di Indonesia.

Adapun nama dari perguruan ini semula adalah
IKS PI (Ikatan Keluarga Silat "Putra Indonesia) tetapi ketika perguruan mulai berkembang diberi nama tambahan "Kera Sakti" dibelakangnya. Hal ini adalah karena masyarakat maupun murid-murid perguruan ini lebih mengenal nama jurus perguruan yaitu teknik jurus keranya daripada nama asli perguruan. Untuk itu selanjutnya dalam memudahkan pencarian identitas perguruan sekaligus secara tidak langsung menambah wibawa nama perguruan maka disebutlah IKS PI Kera Sakti.

Bapak Totong Kiemdarto lahir pada tanggal 20 Oktober 1953 di Madiun. Sebagai pendiri sekaligus guru besarnya, ia mengajarkan pelajaran silat monyet dan kerohanian untuk memantapkan fisik dan iman siswa dan siswi yang selaras dengan tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, yang sehat lahir maupun batin dan berjiwa pancasila.

Pada mulanya perguruan ini hanya dikenal di lingkungan masyarakat desa Nambangan Lor saja tetapi pada sekitar 1983 beberapa murid angkatan I dan II mulaimengembangkan ajaran perguruan di beberapa tempat, yaitu SMAN 3 Madiun, Lanuma Iswahyudi dan Dempel. Baru kemudian menyusul berkembang ditempat lain yang tidak saja di wilayah eks Karesidenan Madiun tetapi juga diluar Madiun.

Didalam metode latihan IKS PI Kera Sakti terdapat 5 tahapan penting untuk mencapai tingkatan tertinggi,yaitu:

  1. Tingkat dasar I sabuk hitam dengan lama latihan 6 bulan;
  2. Tingkat dasar II sabuk kuning sengan lama latihan 6 bulan;
  3. Warga tingkat I sabuk biru dengan lana latihan 1 tahun;
  4. Warga tingkat II sabuk merah;
  5. Warga tingkat III sabuk merah strip emas.

I. Tingkat Dasar I Sabuk Hitam
Untuk latihan awal siswa tingkat dasar I harus melewati 3 tahapan penting di dalam latihan, yaitu:
  1. tingkat awal (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar prguruan);
  2. tingkat menengah (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan);
  3. tingkatan akhir (materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke tingkat dasar II).
Materi yang diberikan pada tingkat dasar I sabuk hitam antara lain teknik senam pelemasan dan yoga, teknik dasar pukulan dan tendangan, teknik dasar pernafasan Chi Kung serta teknik dasar pengembangan jurus.

II. Tingkat Dasar II Sabuk Kuning
Untuk latihan awal siswa tingkat dasar II harus melewati 3 tahapan penting dalam latihan, yaitu:
  1. tingkat awal (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar lanjutan perguruan);
  2. tingkat menengah (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan);
  3. tingkat akhir (materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat I.
Materi yang diberikan adalah teknik senam pelemasan dan yoga, teknik dasar pukulan dan tendangan, teknik dasar pernafasan serta teknik dasar pengembangan jurus.

III. Warga Tingkat I Sabuk Biru
Warga tingkat I harus melewati 3 tahapan penting dalam latihan, yaitu:
  1. tingkatan awal (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan perguruan yang lebih rumit);
  2. tingkkatan menengah (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan kombinasi);
  3. tingkat akhir (materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat II.
Materi yang diberikan pada Warga tingkat I Sabuk Biru adalah teknik senam pelemasan dan yoga, teknik dasar pukulan dan tendangan, teknik dasar pernafasan, teknik dasar pengembangan jurus.

IV. Warga Tingkat II Sabuk Merah
Untuk latihan bagi warga tingkat II lebih banyak mengacu pada pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi. Sedangkan untuk materi yang diberikan pada warga tingkat II ini hanya boleh diketahui oleh warga tingkat II keatas dan tidak dapat disebarkan kepada umum alias dirahasiakan.

V. Warga Tingkat III Sabuk Merah Strip Emas
Untuk latihan bagi warga tingkat III lebih banyak mengacu pada pemantapan dari pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi. Seperti halnya materi pada warga tingkat II, materi tingkat ini juga dirahasiakan.